Jumat, 27 Mei 2016

Move On dari Kemalasan

Selepas kegiatan Latgab PMI di Basarnas Pos Surakarta kemarin badan saya droop. Menerima materi tali-tali, sistem evakuasi dan penggunaan alat-alat operasi badan berkompromi untuk istirahat saja namun, pikiran terlalu semangat untuk belajar semua. Alhamdulillah semua materi bisa saya lewati dengan lancar tanpa halangan.

Selesai kegiatan badan makin berontak tak mau diberi aktivitas, perjalanan Solo-Purworejo saya jalani dengan tidur sepenuhnya. Malam itu juga saya nekat untuk bablas Kota Beriman meski dijalan mata kriyip-kriyip dan badan pasrah duduk di motor seolah tak mau digerakan.

Sampai dirumah benar saja, makan tidak doyan, berat kepala seperti nambah 200%, dan tenaga sudah dibawah 10%. Semua rasa yang "Embuh" ini saya bawa tidur berharap mimpi in...kamu eh mimpi indah maksud saya dan pagi badan sudah kembali fit. Harapan sirna, ternyata kepala masih berat dan lidah malah lupa bagaimana rasa manis, asin, pedas dan rasa cinta yang tulus ini (Krik..krikk..krikkk...). Semua rasa sama saja, tidak enak semu-semu pahit.

Rasa tidak karuan tersebut berlangsung dramatis selama seminggu lebih sampai saya harus meninggalkan kewajiban puasa sekitar 4 hari. Selama sakit banyak kebiasaan-kebiasaan yang berubah bahkan sampai hilang. Baca buku menjadi enggan, ngaji terasa berat, sholat jamaah apalagi. Maaf dek belum bisa jadi imam yang baik buat adek dan anak-anak kita ( ngomong apa sh).

Alhamdulillah sekarang sudah mendingan, rasa pahit sepahit kenangan bersama mantan pun sudah semakin hilang. Berat kepala sudah tak fluktuatif kaya harga daging sapi, dan badan sudah kembali bergairah. Namun masih ada yang belum berubah, soal ibadah, membaca dan ngaji masih terasa jadi beban berat.

Kini berusaha move on dari kemalasan-kemalasan yang sepertinya melekat erat selama saya sakit. Teringat kata-kata teman "Move on itu dilakukan dengan paksaan, bukan sekedar ditunggu". Sedikit target selama ramadan dan paksaan-paksaan untuk ibadah sepertinya harus jadi prioritas.

Meminjam istilahnya om Sapardi D. M dalam Membunuh Orang Gila, Ditunggu Dogot, menunggu atau ditunggu itu pilihan, dan kali ini aku memilih "Ditunggu". Semoga saya ditunggu orang-orang baik yang senantiasa mengingatkanku pada Rabb kita yang Maha Memaafkan..Aamiin Ya Rabb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar