"Aku bangun dengan cinta, kau rawat dengan doa, demikianlah kita, berumah tangga menuju surga".
Empat bulan lagi (Insya Alloh) di pak penghulu yang ganteng aku akan mengucap Mitsaqan ghaliza pada Alloh untuk menjadikan seorang perempuan menjadi sebaik-baiknya perhiasan dunia, Insya Alloh. Timbul sebuah pertanyaan yang selalu kupikirkan, aku sudah memiliki bekal apa? bekal materi? Hmm..penghasilan masih belum tetap. Ilmu? untuk membedakan halal dan haram saja aku belum becus. Lalu bekal apa yang aku punya sehingga berani mengikatkan diri pada perjanjian yang sangat berat itu? Bekalku yaitu "Kepercayaan", Ya saya percaya akan Kuasa Alloh yang mengurus semua perkara dari kematian, rejeki sampai kutu rambut yang terus berkembang biak di tubuh kerbau hutan di pedalaman Afrika sana. Sepenuhnya saya paham akan resiko yang akan saya hadapi nanti, biarlah itu semua menjadi urusanku. Mau tau urusan kalian apa? urusan kalian adalah mendoakan rencanaku dimudahkan Alloh dan berkah.
Sebagai makhluk sosial yang hidup dilingkungan kampung, apa yang saya lakukan pasti menjadi topik yang menarik dan layak untuk diperbincangkan eh maksudnya digosipkan dengan tajam, setajam silettt.
"Lha kerja saja belum jelas mau nikah? istrinya mau dikasih makan apa?"
"Emangnya berumah tangga cukup hanya dengan modal cinta saja?"
Haha.. pertanyaan-pertanyaan logis yang biasa dipertanyakan di tempatku karena yang menjadi standar "Mampu" dalam melaksanakan pernikahan bukanlah bekal ilmu, tetapi materi. Sekaya apapun seseorang, jika Alloh belum mengijinkan ia makan maka ia tidak akan bisa makan meski hanya sebutir nasi. Perihal masalah ini, dia pernah berkata "Bagaimanapun kondisi ekonomi keluarga kita nanti, selama mas masih mau ikhtiar, berjuang mencarinya, Insya Alloh, aku tetap mendampingi, sampai kapanpun". :D
Bismillah, semoga hakikat sebuah pernikahan bisa tercapai dan mendapat keberkahannya. Aamiin Ya Rabb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar