Kamis, 08 Desember 2016

Daftar Perguruan Tinggi Ikatan Dinas dan Beasiswa Penuh

1. Akademi Ilmu Pemasyarakatan Jakarta, Jalan Raya Gandul Cinere, Jakarta selatan, website www.depkumham.go.id
2. Akademi Kimia Analis Jawa Barat, Jalan Ir H Juanda 7, Bogor, website www.aka.ac.id
3. Akademi Pimpinan Perusahaan Jakarta, Jalan Timbul 34, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, website www.app-jakarta.ac.id
4. AKAMIGAS-STEM – Akademi Minyak dan Gas Bumi (Sekolah Tinggi Enerji dan Mineral) di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI. Lokasi kuliah Cepu, Jawa Tengah (Kawasan Rig dan pengeboran minyak) – Info bisa dilihat di www.akamigas-stem.esdm.go.id
5. AKIP – Akademi Ilmu Permasyarakatan di bawah Kementerian Hukum dan HAM. Pendaftaran online di www.depkumham.go.id atau www.ecpns.kemenkumham.go.id Lokasi kuliah di Depok.
6. Akmil - Akademi Militer RI. Untuk pendaftaran bisa search di www.akmil.go.id
7. Akpol - Akademi Kepolisian RI. Untuk pendaftaran bisa search di www.penerimaanp olri.go.id
8. Badan Meteorologi Nasional (BMG), Akademi Meteorologi dan Geofisika (AMG), Jalan Perhubungan I No 5, Komplek Metro, Pondok Betung, Bintaro, Tangerang, website www.amg.ac.id
9. Badan Pusat Statistik (BPS), Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS), Jalan Otto Iskandardinata No 64C, Jakarta Timur, website www.stis.ac.id
10. Sekolah Tinggi AKuntansi Negara (STAN), Jalan Bintaro Utama Sektor V, Bintaro Jaya, Tangerang, website www.stan.ac.id
11. MMTC – Sekolah Tinggi Multi Media Training Center di bawah Kementerian Komunikasi dan Informatika RI (Kominfo) Pendaftaran online di www.mmtc.ac.id Lokasi kuliah di Yogyakarta
12. Politeknik Kesehatan DEPKES Surabaya, Jalan Pucang Jajar Tengah 56, Surabaya, website www.poltekkesdepkes-sby.ac.id
13. Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi, Jalan Cimandiri 34-38, Bandung, website www.lan.go.id
14. Sekolah Tinggi Manajemen Industri Jakarta, Jalan Letjen Suprapto 26, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, website www.stmi.ac.id.

Sabtu, 03 Desember 2016

Ada istilah baru “nyinyiers”.

Demi Allah... baru kali ini saya melihat aksi demo hingga menangis. Saya tidak kuat menahan rasa haru, bahagia, bangga, gembira, dan sedikit amarah semua berbaur menjadi satu.
Awalnya saya ke Jakarta untuk wawancara narasumber riset saya. Tapi sebuah penerbit juga mengusulkan saya menulis buku tentang aksi 411 dan 212, lebih kurang membahas 'Media Soslial dan Aksi Damai 4/212'. Karena kebetulan itu, saya bergerak hadir ke Monas pusat lokasi aksi 212.
Sambil menangis tersedu melihat aksi 212 saya telpon isteri untuk mengabarkan situasinya. Luar biasa, persatuan, kesatuan, kekompakan, persaudaraan, silaturrahmi umat Islam demikian nyata.
Pukul 07.00 WIB saya bergerak dari Cikini menuju Monas, ojeg yang saya tumpangi harus muter mencari jalan tikus. Semua jalan dan lorong mengarak ke Monas macet total. Perjalanan saya terhenti di Kwitang, dari Kwitang saya jalan kaki menuju Monas, hingga ke perempatan Sarinah. Saat sampai di Tugu Tani, dada saya mulai bergetar tak karuan. Seperti orang takjub tidak terkira. Umat Islam yang hadir saling mengingatkan untuk hati-hati, jangan injak taman, buang sampah pada tempatnya, segala jenis makanan sepanjang jalan gratis. Tidak ada caci maki seperti yang terjadi di sosial media. Saat itu sudah mulai perasaan berkecamuk, tapi masih bisa saya tahan.
Tepat di depan Kedubes AS, dada saya meledak menangis haru saat seorang kakek renta menawarkan saya buah Salak, gratis. Saya tanya, "Ini salak dari mana Kek?" "Saya beli sendiri dari tabungan", jawabnya. Saya haya bisa terdiam dan terpaku menatapnya.
Di sebelahnya, ada juga seorang Ibu tua juga menawarkan makanan gratis yang dibungkus. Sepertinya mie atau nasi uduk. Bayangkan, Ibu itu pasti bangun lebih pagi untuk memasak makanan itu. Saya tanya, "Ini makanan Ibu masak sendiri?" "Iya", jawabnya. "Saya biasa jualan sarapan di Matraman, hari ini libur. Masakan saya gratis untuk peserta aksi". Masya Allah... Saya langsung lemes, mes, messss... Saya senakin lemes sebab obrolan kami disertai suara sayup orang berorasi dan gema suara takbir.

Senin, 21 November 2016

Kau dan Aku = Kita

Malam ini ditemani segelas susu coklat cap bendera, kenangan yang tak pernah kuniatkan untuk kuingat, tiba-tiba datang mengisi sela pikiran yang sedang sibuk melupakan kenangan. 6 tahun berlalu, meninggalkan masa bahagia duka dengan segala kenangannya. Aku tersipu malu bercampur bahagia mengingatnya, bak perempuan yang dipinang lelaki dicinta. Saat itu di sudut kota Purworejo, aku merasa mulai mencintaimu dengan egois tanpa peduli kau sudah mencintai seseorang atau belum.
"Aku mencintaimu, kamu tahu? mengenalmu bagiku sebuah kebahagiaan tak terkata dan dalam hati terdalam aku ingin menjadi sahabatmu dalam menjalani hidup, jika kau mau, mari kita buat bahagai hidup kita bersama, berdua".
Seperti beku dan kelu aku mengucapnya dan kamu pun sering mengatakan wajahku lucu saat mengucap itu. Kamu tahu? sebelum aku jatuh cinta kali ini, aku sudah belajar mencintai 5 perempuan dan kali ini aku benar-benar berani mengucap jika aku ingin menjadi teman hidup, menjadi suamimu. (Tulisan awal tahun 2016 yang belum terselesaikan)

Jumat, 27 Mei 2016

Move On dari Kemalasan

Selepas kegiatan Latgab PMI di Basarnas Pos Surakarta kemarin badan saya droop. Menerima materi tali-tali, sistem evakuasi dan penggunaan alat-alat operasi badan berkompromi untuk istirahat saja namun, pikiran terlalu semangat untuk belajar semua. Alhamdulillah semua materi bisa saya lewati dengan lancar tanpa halangan.

Selesai kegiatan badan makin berontak tak mau diberi aktivitas, perjalanan Solo-Purworejo saya jalani dengan tidur sepenuhnya. Malam itu juga saya nekat untuk bablas Kota Beriman meski dijalan mata kriyip-kriyip dan badan pasrah duduk di motor seolah tak mau digerakan.

Sampai dirumah benar saja, makan tidak doyan, berat kepala seperti nambah 200%, dan tenaga sudah dibawah 10%. Semua rasa yang "Embuh" ini saya bawa tidur berharap mimpi in...kamu eh mimpi indah maksud saya dan pagi badan sudah kembali fit. Harapan sirna, ternyata kepala masih berat dan lidah malah lupa bagaimana rasa manis, asin, pedas dan rasa cinta yang tulus ini (Krik..krikk..krikkk...). Semua rasa sama saja, tidak enak semu-semu pahit.

Rasa tidak karuan tersebut berlangsung dramatis selama seminggu lebih sampai saya harus meninggalkan kewajiban puasa sekitar 4 hari. Selama sakit banyak kebiasaan-kebiasaan yang berubah bahkan sampai hilang. Baca buku menjadi enggan, ngaji terasa berat, sholat jamaah apalagi. Maaf dek belum bisa jadi imam yang baik buat adek dan anak-anak kita ( ngomong apa sh).

Alhamdulillah sekarang sudah mendingan, rasa pahit sepahit kenangan bersama mantan pun sudah semakin hilang. Berat kepala sudah tak fluktuatif kaya harga daging sapi, dan badan sudah kembali bergairah. Namun masih ada yang belum berubah, soal ibadah, membaca dan ngaji masih terasa jadi beban berat.

Kini berusaha move on dari kemalasan-kemalasan yang sepertinya melekat erat selama saya sakit. Teringat kata-kata teman "Move on itu dilakukan dengan paksaan, bukan sekedar ditunggu". Sedikit target selama ramadan dan paksaan-paksaan untuk ibadah sepertinya harus jadi prioritas.

Meminjam istilahnya om Sapardi D. M dalam Membunuh Orang Gila, Ditunggu Dogot, menunggu atau ditunggu itu pilihan, dan kali ini aku memilih "Ditunggu". Semoga saya ditunggu orang-orang baik yang senantiasa mengingatkanku pada Rabb kita yang Maha Memaafkan..Aamiin Ya Rabb.

Mitsaqan ghaliza

"Aku bangun dengan cinta, kau rawat dengan doa, demikianlah kita, berumah tangga menuju surga".
Empat bulan lagi  (Insya Alloh) di pak penghulu yang ganteng aku akan mengucap Mitsaqan ghaliza pada Alloh untuk menjadikan seorang perempuan menjadi sebaik-baiknya perhiasan dunia, Insya Alloh. Timbul sebuah pertanyaan yang selalu kupikirkan, aku sudah memiliki bekal apa? bekal materi? Hmm..penghasilan masih belum tetap. Ilmu? untuk membedakan halal dan haram saja aku belum becus. Lalu bekal apa yang aku  punya sehingga berani mengikatkan diri pada perjanjian yang sangat berat itu? Bekalku yaitu "Kepercayaan", Ya saya percaya akan Kuasa Alloh yang mengurus semua perkara dari kematian, rejeki sampai kutu rambut yang terus berkembang biak di tubuh kerbau hutan di pedalaman Afrika sana. Sepenuhnya saya paham akan resiko yang akan saya hadapi nanti, biarlah itu semua menjadi urusanku. Mau tau urusan kalian apa? urusan kalian adalah mendoakan rencanaku dimudahkan Alloh dan berkah.

Sebagai makhluk sosial yang hidup dilingkungan kampung, apa yang saya lakukan pasti menjadi topik yang menarik dan layak untuk diperbincangkan eh maksudnya digosipkan dengan tajam, setajam silettt.
"Lha kerja saja belum jelas mau nikah? istrinya mau dikasih makan apa?"
"Emangnya berumah tangga cukup hanya dengan modal cinta saja?"
Haha.. pertanyaan-pertanyaan logis yang biasa dipertanyakan di tempatku karena yang menjadi standar "Mampu" dalam melaksanakan pernikahan bukanlah bekal ilmu, tetapi materi. Sekaya apapun seseorang, jika Alloh belum mengijinkan ia makan maka ia tidak akan bisa makan meski hanya sebutir nasi. Perihal masalah ini, dia pernah berkata "Bagaimanapun kondisi ekonomi keluarga kita nanti, selama mas masih mau ikhtiar, berjuang mencarinya, Insya Alloh, aku tetap mendampingi, sampai kapanpun". :D

Bismillah, semoga hakikat sebuah pernikahan bisa tercapai dan mendapat keberkahannya. Aamiin Ya Rabb.

Selasa, 24 Mei 2016

Belajar Malu Pada Si Tuna Netra

Sebenarnya masih pengen hibernasi, tapi sepertinya rugi kalo kisah ini nggak saya bagi. Tanggal 16 siang, sepulang kerja, saya naik bis dan duduk manis di bangku deret belakang biar gak sumuk. Entah kenapa tetiba saya pengen pindah depan, akhirnya saya duduk disamping mas-mas ini. Begitu dia menoleh, baru saya tau bahwa dia tuna netra, kedua matanya abu-abu. Tak ada pikiran apapun saat itu, ketemu tuna netra hal biasa buat saya. Setidaknya ada 2 tuna netra yg biasa saya temui dalam perjalanan kerja, 1 pengamen dan 1 tukang pijat. Tiba-tiba mas ini nanya ke saya dimana saya akan turun. Saya jawab alamat saya. Sebagai sopan-santun saya tanya balik dia mau kemana, ke Semarang jawabnya. Tapi saya lalu jadi kepo. "Semarangnya mana mas?" 
"Terminal terboyo bu" 
"Memangnya mau kemana mas?" 
"Ngaliyan"
"Wah kejauhan kalo turun Terboyo, mending turun Banyumanik mas, terus naik bis jurusan mangkang turun Jrakah. Ngaliyannya mana?" 
"Kampus UIN Bu". Sampe disini semakin besar kepo saya, ngapain ya tuna netra ke kampus UIN. "Kampus berapa? Kalo kampus satu, mas bisa langsung turun di depannya, gak perlu naik bis lagi?" 
"Sebentar saya telpon teman saya dulu Bu, saya juga belum tau kampus berapa"

Minggu, 22 Mei 2016

Nasihat Gus Dur tentang sholat

Bila engkau anggap solat itu hanya penggugur kewajiban, maka kau akan terburu-buru mengerjakannya.
Bila kau anggap solat hanya sebuah kewajiban, maka kau tak akan menikmati hadirnya Allah saat kau mengerjakannya..
Anggaplah solat itu pertemuan yang kau nanti dengan Tuhanmu.
Anggaplah solat itu sebagai cara terbaik kau bercerita dengan Allah swt. Anggaplah solat itu sebagai kondisi terbaik untuk kau berkeluh kesah dengan Allah swt.
Anggaplah solat itu sebagai seriusnya kamu dalam bermimpi.
Bayangkan ketika "azan berkumandang", tangan Allah melambai ke depanmu untuk mengajak kau lebih dekat dengan-Nya.
Bayangkan ketika kau" takbir", Allah melihatmu, Allah senyum untukmu dan Allah bangga terhadapmu. Bayangkanlah ketika "rukuk", Allah menopang badanmu hingga kau tak terjatuh, hingga kau rasakan damai dalam sentuhan-Nya.
Bayangkan ketika "sujud", Allah mengelus kepalamu. Lalu Dia berbisik lembut di kedua telingamu: "Aku Mencintaimu hambaKu".
Bayangkan ketika kau "duduk di antara dua sujud", Allah berdiri gagah di depanmu, lalu mengatakan : "Aku tak akan diam apabila ada yang mengusikmu".
Bayangkan ketika kau memberi "salam", Allah menjawabnya, lalu kau seperti manusia berhati bersih setelah itu.