Jamal Talabani
Kamis, 08 Desember 2016
Daftar Perguruan Tinggi Ikatan Dinas dan Beasiswa Penuh
Sabtu, 03 Desember 2016
Ada istilah baru “nyinyiers”.
Senin, 21 November 2016
Kau dan Aku = Kita
"Aku mencintaimu, kamu tahu? mengenalmu bagiku sebuah kebahagiaan tak terkata dan dalam hati terdalam aku ingin menjadi sahabatmu dalam menjalani hidup, jika kau mau, mari kita buat bahagai hidup kita bersama, berdua".
Seperti beku dan kelu aku mengucapnya dan kamu pun sering mengatakan wajahku lucu saat mengucap itu. Kamu tahu? sebelum aku jatuh cinta kali ini, aku sudah belajar mencintai 5 perempuan dan kali ini aku benar-benar berani mengucap jika aku ingin menjadi teman hidup, menjadi suamimu. (Tulisan awal tahun 2016 yang belum terselesaikan)
Jumat, 27 Mei 2016
Move On dari Kemalasan
Selepas kegiatan Latgab PMI di Basarnas Pos Surakarta kemarin badan saya droop. Menerima materi tali-tali, sistem evakuasi dan penggunaan alat-alat operasi badan berkompromi untuk istirahat saja namun, pikiran terlalu semangat untuk belajar semua. Alhamdulillah semua materi bisa saya lewati dengan lancar tanpa halangan.
Selesai kegiatan badan makin berontak tak mau diberi aktivitas, perjalanan Solo-Purworejo saya jalani dengan tidur sepenuhnya. Malam itu juga saya nekat untuk bablas Kota Beriman meski dijalan mata kriyip-kriyip dan badan pasrah duduk di motor seolah tak mau digerakan.
Sampai dirumah benar saja, makan tidak doyan, berat kepala seperti nambah 200%, dan tenaga sudah dibawah 10%. Semua rasa yang "Embuh" ini saya bawa tidur berharap mimpi in...kamu eh mimpi indah maksud saya dan pagi badan sudah kembali fit. Harapan sirna, ternyata kepala masih berat dan lidah malah lupa bagaimana rasa manis, asin, pedas dan rasa cinta yang tulus ini (Krik..krikk..krikkk...). Semua rasa sama saja, tidak enak semu-semu pahit.
Rasa tidak karuan tersebut berlangsung dramatis selama seminggu lebih sampai saya harus meninggalkan kewajiban puasa sekitar 4 hari. Selama sakit banyak kebiasaan-kebiasaan yang berubah bahkan sampai hilang. Baca buku menjadi enggan, ngaji terasa berat, sholat jamaah apalagi. Maaf dek belum bisa jadi imam yang baik buat adek dan anak-anak kita ( ngomong apa sh).
Alhamdulillah sekarang sudah mendingan, rasa pahit sepahit kenangan bersama mantan pun sudah semakin hilang. Berat kepala sudah tak fluktuatif kaya harga daging sapi, dan badan sudah kembali bergairah. Namun masih ada yang belum berubah, soal ibadah, membaca dan ngaji masih terasa jadi beban berat.
Kini berusaha move on dari kemalasan-kemalasan yang sepertinya melekat erat selama saya sakit. Teringat kata-kata teman "Move on itu dilakukan dengan paksaan, bukan sekedar ditunggu". Sedikit target selama ramadan dan paksaan-paksaan untuk ibadah sepertinya harus jadi prioritas.
Meminjam istilahnya om Sapardi D. M dalam Membunuh Orang Gila, Ditunggu Dogot, menunggu atau ditunggu itu pilihan, dan kali ini aku memilih "Ditunggu". Semoga saya ditunggu orang-orang baik yang senantiasa mengingatkanku pada Rabb kita yang Maha Memaafkan..Aamiin Ya Rabb.
Mitsaqan ghaliza
"Aku bangun dengan cinta, kau rawat dengan doa, demikianlah kita, berumah tangga menuju surga".
Empat bulan lagi (Insya Alloh) di pak penghulu yang ganteng aku akan mengucap Mitsaqan ghaliza pada Alloh untuk menjadikan seorang perempuan menjadi sebaik-baiknya perhiasan dunia, Insya Alloh. Timbul sebuah pertanyaan yang selalu kupikirkan, aku sudah memiliki bekal apa? bekal materi? Hmm..penghasilan masih belum tetap. Ilmu? untuk membedakan halal dan haram saja aku belum becus. Lalu bekal apa yang aku punya sehingga berani mengikatkan diri pada perjanjian yang sangat berat itu? Bekalku yaitu "Kepercayaan", Ya saya percaya akan Kuasa Alloh yang mengurus semua perkara dari kematian, rejeki sampai kutu rambut yang terus berkembang biak di tubuh kerbau hutan di pedalaman Afrika sana. Sepenuhnya saya paham akan resiko yang akan saya hadapi nanti, biarlah itu semua menjadi urusanku. Mau tau urusan kalian apa? urusan kalian adalah mendoakan rencanaku dimudahkan Alloh dan berkah.
Sebagai makhluk sosial yang hidup dilingkungan kampung, apa yang saya lakukan pasti menjadi topik yang menarik dan layak untuk diperbincangkan eh maksudnya digosipkan dengan tajam, setajam silettt.
"Lha kerja saja belum jelas mau nikah? istrinya mau dikasih makan apa?"
"Emangnya berumah tangga cukup hanya dengan modal cinta saja?"
Haha.. pertanyaan-pertanyaan logis yang biasa dipertanyakan di tempatku karena yang menjadi standar "Mampu" dalam melaksanakan pernikahan bukanlah bekal ilmu, tetapi materi. Sekaya apapun seseorang, jika Alloh belum mengijinkan ia makan maka ia tidak akan bisa makan meski hanya sebutir nasi. Perihal masalah ini, dia pernah berkata "Bagaimanapun kondisi ekonomi keluarga kita nanti, selama mas masih mau ikhtiar, berjuang mencarinya, Insya Alloh, aku tetap mendampingi, sampai kapanpun". :D
Bismillah, semoga hakikat sebuah pernikahan bisa tercapai dan mendapat keberkahannya. Aamiin Ya Rabb.
Selasa, 24 Mei 2016
Belajar Malu Pada Si Tuna Netra
Minggu, 22 Mei 2016
Nasihat Gus Dur tentang sholat
Bila engkau anggap solat itu hanya penggugur kewajiban, maka kau akan terburu-buru mengerjakannya.
Bila kau anggap solat hanya sebuah kewajiban, maka kau tak akan menikmati hadirnya Allah saat kau mengerjakannya..
Anggaplah solat itu pertemuan yang kau nanti dengan Tuhanmu.
Anggaplah solat itu sebagai cara terbaik kau bercerita dengan Allah swt. Anggaplah solat itu sebagai kondisi terbaik untuk kau berkeluh kesah dengan Allah swt.
Anggaplah solat itu sebagai seriusnya kamu dalam bermimpi.
Bayangkan ketika "azan berkumandang", tangan Allah melambai ke depanmu untuk mengajak kau lebih dekat dengan-Nya.
Bayangkan ketika kau" takbir", Allah melihatmu, Allah senyum untukmu dan Allah bangga terhadapmu. Bayangkanlah ketika "rukuk", Allah menopang badanmu hingga kau tak terjatuh, hingga kau rasakan damai dalam sentuhan-Nya.
Bayangkan ketika "sujud", Allah mengelus kepalamu. Lalu Dia berbisik lembut di kedua telingamu: "Aku Mencintaimu hambaKu".
Bayangkan ketika kau "duduk di antara dua sujud", Allah berdiri gagah di depanmu, lalu mengatakan : "Aku tak akan diam apabila ada yang mengusikmu".
Bayangkan ketika kau memberi "salam", Allah menjawabnya, lalu kau seperti manusia berhati bersih setelah itu.